oleh

Rilis Survei Politik SSC Bertajuk “Puputan Valentine 2024” : Tingkat Kepuasan Kinerja Presiden Serta Gubernur Hingga Elektabilitas Partai dan Capres.

Surabaya – Surabaya Survey Center (SSC) merilis hasil survey Politik periode Agustus 2022 di Hotel Narita Surabaya pada 29 Aguatus 2022. Acara yang bertema Puputan Valentine 2024 tersebut mengundang ratusan jurnalis media massa hingga perwakilan partai politik di Jawa Timur.

Dipilihnya Tema puputan Valentine 2024 sebagai pengingat bahwa pemilu 2024 diadakan tepat pada hari Valentine yakni 14 Februari 2024. SSC merilis tingkat kepuasan rakyat kepada kinerja Presiden RI dan Gubernur Jatim. Selain itu elektabilitas partai dan potensi para calon kepala daerah maupun para capres.

Untuk Survei SSC tingkat kepuasan kinerja preaiden yang telah Sudah berjalan selama 3 tahun masa jabatan kepemimpinan pasangan Presiden, Joko Widodo dan Wakil Presiden, Ma’ruf Amin (Jokowi-Ma’ruf). Kepuasan masyarakat Jatim pada pasangan ini menunjukkan angka yang relatif tinggi. Hasil riset yang dilakukan Surabaya Survey Center (SSC) menunjukkan sebanyak 69,8 persen kalangan masyarakat menyatakan puas terhadap kinerja Jokowi, sementara 60 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja Wapres Ma’ruf Amin.

Peneliti Senior SSC, Ikhsan Rosidi mengungkapkan dari keseluruhan responden hanya 3,5 persen yang tidak puas dengan kinerja Jokowi, serta 24,2 persen menyatakan kurang puas dan sisanya yang 2,5 persen menyatakan tidak tahu/tidak menjawab. Sementara, responden yang kurang puas terhadap kinerja Ma’ruf menunjukkan angka 30,9 persen dan 6,8 persen dari mereka menyatakan tidak puas. Sisanya, 2,3 persen responden menyatakan tidak tahu/tidak menjawab. “Hasilnya jelas, masyarakat lebih puas dengan kinerja Jokowi dibandingkan Ma’ruf”, jelasnya.

“Hasilnya jelas, masyarakat Jatim puas terhadap kinerja Jokowi – Ma’ruf. Ini tentu tidak lepas dari keberhasilan pemerintahan Jokowi melalui pandemi Covid dan berbagai krisis ekonomi yang melanda akibat dinamika internasional”, jelasnya.

Lebih lanjut, Ikhsan mengatakan fakta ini menunjukkan bahawa masyarakat masih mempercayai duet Jokowi-Ma’ruf Amin sejauh ini. “Terkait kepuasan kinerja, Tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi terhadap kinerja Presiden dan Wapres ini menunjukkan bahwa duet kepemimpinan nasional ini, sejauh ini dianggap mampu menjalankan agenda dan menyelesaikan berbagai masalah pembangunan yang muncul serta masih dipercaya oleh masyarakat untuk memimpin Indonesia hingga masa tugas purna pada tahun 2024”, ujar Ikhsan.

Pada sisi lain responden juga menilai bahwa perkembangan Indonesia selama dipimpin Jokowi-Ma’ruf hasil responden menunjukkan 54,4 persen semakin baik, sementara 36 persen sama saja dan 7,7 persen semakin buruk, kemudian 1,9 persen menyatakan tidak tahu/tidak menjawab. “Keduanya memang terlihat rapi berkolaborasi dalam kepemimpinan nasional dan mampu menyelesaikan masalah-masalah pembangunan terutma pada saat-saat kritis semasa pandemi COVID-19, sehingga masyarakat Jatim menilai perkembangan Indonesia selama dipimpin Jokowi-Ma’ruf semakin baik”, pungkasnya.

Sebagai informasi, hasil penelitian yang dilakukan oleh SSC ini dilaksanakan dari tanggal 01-10 Agustus 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Sebanyak 1.200 responden dipilih dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,83 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Penentuan responden dalam setiap Kartu Keluarga (KK) dilakukan dengan bantuan kish grid.

Masyarakat Jatim Puas Terhadap Kinerja Khofifah – Emil

Surabaya – Sudah berjalan selama 3 tahun, masa jabatan kepemimpinan pasangan Gubernur, Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur, Emil Elestianto Dardak (Khofifah – Emil). Dan ternyata kepuasan pasangan ini di Jatim menunjukkan kinerja Khofifah lebih tinggi dibanding terhadap kinerja Emil Dardak. Hasil riset yang dilakukan Surabaya Survey Center (SSC) menunjukkan sebanyak 71,5 persen kalangan masyarakat puas terhadap kinerja Khofifah, sementara Emil Dardak sebanyak 69,4 persen.

Direktur Riset SSC, Moh. Edy Marzuki menuturkan hanya 2,7 persen yang tidak puas dengan kinerja Khofifah, serta 23,4 persen menyatakan kurang puas dan sisanya yang 2,4 persen menyatakan tidak tahu/tidak menjawab. Sementara, yang kurang puas terhadap kinerja Emil Dardak menunjukkan angka 24,3 persen dan 2,7 persen dari mereka menyatakan tidak puas. Sisanya, 3,6 persen responden menyatakan tidak tahu/tidak menjawab. “Dari hasil survey menunjukkan, kepuasan masyarakat terhadap kinerja Gubernur dan Wakil gubernur sangat tinggi, namun kepuasan terhadap kinerja Khofifah lebih tinggi dibandingkan Emil Dardak, meski prosentasenya tidak terpaut banyak”, jelasnya.

Lebih lanjut, pria yang juga dosen di Universitas Yudharta Pasuruan ini mengatakan. “Terkait kepuasan kinerja, tentunya ini menjadi evaluasi bagi Khofifah – Emil, dan perlu ada pembagian wilayah kerja antara Gubernur dan Wakil Gubernur sehingga roda pemerintahan Jawa Timur berjalan optimal”, ujar Edy.

Sebagai informasi, hasil penelitian yang dilakukan oleh SSC ini dilaksanakan dari tanggal 01-10 Agustus 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Sebanyak 1.200 responden dipilih dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,83 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Penentuan responden dalam setiap Kartu Keluarga (KK) dilakukan dengan bantuan kish grid.

Emil Dardak, Kusnadi, dan Anwar Sadad Ketua Parpol Paling Populer di Jatim

Dari hasil riset popularitas pimpinan Partai Politik (Parpol) yang dilakukan oleh Surabaya Survey Center (SSC), diketahui jika Emil Dardak adalah sosok ketua partai politik paling populer di Jatim. Sementara, ketua Parpol lainnya seperti Kusnadi dan Anwar Sadad masih kalah dengan Pimpinan Parpol yang juga Wakil Gubernur Jatim ini.

Hal itu diungkapkan oleh Peneliti Senior SSC, Ikhsan Rosidi berdasarkan dari hasil riset yang telah mereka lakukan sebelumnya. “Emil, Kusnadi, dan Anwar Sadad bersaing ketat secara popularitas yang menyasar responden,” kata Ikhsan.

Di survei Popularitas Pimpinan Parpol, Emil memuncaki hasil dengan capaian 78,8 persen. “Kemudian baru disusul Kusnadi dengan hasil perolehan 28,2 persen. Sementara Anwar Sadad memeroleh 27,8 persen”,imbuhnya.

Lebih lanjut Ikhsan menyebutkan ada beberapa nama lainnya yang muncul seperti Abdul Halim Iskandar dengan 18,8 persen, M Sarmuji dengan perolehan 12,8 persen. “Nama-nama lain masih di bawah 10 persen, diantaranya Mundjidah Wahab dengan 7,8 persen, Iwan Setiawan dengan 7,0 persen, Sri Sajekti Sudjunadi dengan 6,6 persen, Ahmad Rizki Sadiq dengan 5 persen, Muhammad Mirdasy dengan 4,2 persen, Yunianto Wahyudi dengan 4 persen, dan Muhammad Masduki dengan 2,7 persen”, urainya.

Hanya saja, pria yang juga penghobi membaca buku ini mengatakan meski meraih popularitas sebagai pimpinan Parpol yang bisa dibilang bagus, tokoh-tokoh di atas tidak boleh lengah dan terlalu berbangga diri. “Pasalnya, masih ada nama-nama dengan popularitas siap menyusul, di antaranya ada M. Sarmuji 12,8 persen dan Abdul Halim Iskandar dengan perolehan 18,8 persen. Ini pesaing yang bisa jadi mengungguli secara popularitas”,pungkas Ikhsan.

Sebagai informasi, hasil penelitian yang dilakukan oleh SSC ini dilaksanakan dari tanggal 01-10 Agustus 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Sebanyak 1.200 responden dipilih dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,83 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Penentuan responden dalam setiap Kartu Keluarga (KK) dilakukan dengan bantuan kish grid.

Gus Ipul, Eri Cahyadi, dan Thoriqul Haq Jadi Kepala Daerah Paling Populer di Jatim

Dari hasil riset popularitas Kepala Daerah yang dilakukan oleh Surabaya Survey Center (SSC), diketahui Saifullah Yusuf atau biasa dikenal dengan Gus Ipul paling populer. Sementara,Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Bupati Lumajang Thoriqul Haq masih kalah dengan Wali Kota Pasuruan tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Riset SSC Moh. Edy Marzuki, “ berdasarkan dari hasil survey, Tiga pimpinan daerah ini, Gus Ipul, Eri Cahyadi, dan Thoriqul Haq bersaing ketat popularitasnya di Jatim,, utamanya Gus Ipul. Popularitas Gus Ipul yang mencapai 64,2 persen itu wajar karena dia pernah menjabat wakil Gubernur, jadi ingatan masyarakat Jatim terhadap Gus Ipul masih melekat ”, ungkapnya.

Di survei Popularitas Kepala Daerah, Gus Ipul memuncaki hasil dengan capaian 64,2 persen. Kemudian baru disusul Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi dengan perolehan 38,8 persen. Sementara Thoriqul Haq, Bupati Lumajang memeroleh 14,8 persen. Ketiganya diikuti secara ketat oleh HM. Sanusi memeroleh 14,6 persen, diikuti Sutiaji 14,3 persen, Ahmad Muhdlor 13 persen, Hanindhito H. Pramono 10,5 persen, Dewanti Rumpoko 10,2 persen, dan Hendy Siswanto 10 persen.

Lebih lanjut, pria yang juga Dosen Unuversitar Yudharta Pasuruan ini mengatakan sejumlah nama kepala daerah lainnya masih di bawah 10 persen seperti Irsyad Yusuf 9,8 persen, Abdullah Abu Bakar 9 persen, Habib Hadi Zainal Abidin, RA Latif Amin Imron, Fandi Ach. Yani yang ketiganya memeroleh 8,8 persen. “Sementara nama-nama lain seperti Badrut Tamam 8,2 persen, Muhammad Nur Arifin 8 persen, Munjidah wahab, Hj. Rini Syarifah, Ony Anwar Harsono, Ikfima Fahmawati, Aditya Halindra Faridzki, Ach. Fauzi, dan Santoso sama-sama memeroleh 7,8 persen. Masih ada Anna Mu’awanah dan Ipuk Fietandai dengan 7,7 persen, Sugiri Santjoko 7,5 persen, H. Slamet Junaidi 7,4 persen, dan Marhein Djimadi 7,2 persen”, tandas Edy.

Sementara 10 perolehan popularitas paling bawah di antara 38 kepala daerah Jatim yang ada diantaranya Timbul Prihanjoko dengan 7 persen, Yuhronur Efendi, Indrata Nur Bayuaji, H. Karna Suswandi sama-sama 6,8 persen, H. Ahmad Dawami 6,7 persen. “Lalu 5 perolehan popularitas paling bawah di antara 38 kepala daerah Jatim diantaranya Maidi 6,6 persen, Maryoto Birowo 6,3 persen, Suprawoto 5,7 persen, Salwa Arifin 5,6 persen, dan Ika Puspitasari 5,2 persen”, pungkasnya.

Sebagai informasi, hasil penelitian yang dilakukan oleh SSC ini dilaksanakan dari tanggal 1-10 Agustus 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Sebanyak 1.200 responden dipilih dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,83 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Penentuan responden dalam setiap Kartu Keluarga (KK) dilakukan dengan bantuan kish grid.

Khofifah Masih Pimpin Bursa Cagub, Sementara Emil Dardak Puncaki Bursa Cawagub Jatim 2024

Masa jabatan pasangan Khofifah-Emil Dardak memang masih baru akan berakhir pada 2023 mendatang, meski demikian beberapa nama sudah santer disebut sebagai favorit untuk Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) di Pemilihan Gubernur (Pilgub) mendatang. Hal itu terungkap dari hasil survei yang dilakukan oleh Surabaya Survey Center (SSC).

Direktur SSC, Mochtar W. Oetomo mengungkapkan jika Gubernur Jatim, Khofifah, puncaki hasil survei elektabilitas di Jatim dengan 30 persen. Kemudian disusul Tri Rismaharini dan Emil Elistianto Dardak dengan masing-masing 12,8 persen dan 9,8 persen. “Secara elektabilitas ini bisa menjadi modal bagus bagi Khofifah, namun juga harus waspada dengan Risma dan wakilnya saat ini, Emil”, ungkapnya.

Lebih lanjut, Mochtar menyebutkan beberapa nama-nama lain diantaranya Saifullah Yusuf dengan 5,7 persen, Eri Cahyadi dengan 4,5 persen, Anwar Sadad dan Kusnadi keduanya 2,5 persen, Puti Guntur dengan 2 persen. “Sementara Abdul Halim Iskandar memeroleh 1,8 persen, Djarot Saiful H. dengan 1 persen. Kemudian M. Sarmuji dan Hanindhito Pramono keduanya 0,8 persen, M. Nur Arifin dan Muhamad Fawad 0,2 persen”, urai Mochtar.

Sementara Emil Dardak, Wakil Gubernur Jatim saat ini menduduki posisi teratas hasil survei elektabilitas Cawagub di Jatim dengan 30,8 persen, disusul Eri Cahyadi 6,3 persen, Puti Guntur 5,2 persen, Saifulah Yusuf 4,8 persen, Anwar Sadad 4,5 persen, dan Kusnadi 4 persen. “Nama-nama lainnya memeroleh di bawah 4 persen, seperti Tri Rismaharini 2,8 persen, Thoriqul Haq 2 persen, M. Nur Arifin 1,8 persen. Sementara M. Fawat dan Badrut Tamam keduanya 0,8 persen, Irsyad Yusuf, Ahmad Muhdlor, Abdul Halim Iskandar, dan Mundjidah Wahab sama-sama memeroleh 0,6 persen, serta Irwan Setiawan dan Heru Tjahyono keduanya 0,2 persen”, jelasnya.

Meski demikian, Mochtar mengatakan kontestasi Pilgub masih sangat terbuka lebar bagi seluruh nama yang beredar di bursa Cagub dan Cawagub. “Karena dari survei elektabilitas Cagub masih 23,8 persen masyarakat jatim yang belum menentukan Pilihan. Sementara untuk survei elektabilitas Cawagub sebanyak 30,2 persen yang belum menentukan pilihannya. Dengan jumlah sebanyak ini, yang bisa merangkul mereka bisa menyalip di tikungan akhir” pungkas Mochtar.

Sebagai informasi, hasil penelitian yang dilakukan oleh SSC ini dilaksanakan dari tanggal 01-10 Agustus 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Sebanyak 1.200 responden dipilih dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,83 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Penentuan responden dalam setiap Kartu Keluarga (KK) dilakukan dengan bantuan kish grid.

Ganjar dan Prabowo Bersaing Ketat dalam Bursa Capres

Pemilihan Presiden (Pilpres) mendatang memang baru akan digelar di tahun 2024 nanti, meski demikian 2 nama sudah mulai mencuat dan bersaing ketat secara elektabilitas menjadi favorit di Jawa Timur. Keduanya adalah Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto dan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Surabaya Survey Center (SSC), Mochtar Wahyu Oetomo berdasarkan dari hasil suvei “Ganjar dan Prabowo bersaing ketat secara elektabilitas di Jatim, meski ada nama-nama lain yang menyusul seperti Anies Baswedan dan Khofifah, namun prosentase keduanya masih jauh tertinggal oleh Ganjar dan Prabowo” kata Mochtar.

Di survei elektabilitras, Ganjar memuncaki hasil suurvei dengan capaian 25 persen. Kemudian baru disusul Prabowo dengan perolehan 18,2 persen, serta Khofifah dan Anies yang keduanya memeroleh 7,5 persen, ada juga Tri Rismaharini dengan 5,8 persen. “Sementara, nama-nama lain yang muncul masih di bawah 5 persen, seperti Ridwan Kamil dengan 4,6 persen, Agus Harimurti Yudhoyono dengan 4,5 persen, Puan Maharani dengan 3,3 persen, Erick Thohir dengan 2 persen, Sandiaga Uno dan Muhaimin Iskandar keduanya 1,8 persen, Mahfud MD 1 persen, Airlangga Hartanto dengan 0,8 persen, Hari Tanoe S. dan Gatot Nurmantyo keduanya 0,4 persen, Surya Paloh ada 0,2 persen, sedangkan Muldoko 0,1 persen”, imbuhnya.

Meski demikian, pria yang juga dosen di Universitas Trunojoyo Madura ini mengungkapkan “untuk bursa capres masih begitu terbuka, masih banyak waktu bagi kandidat lain untuk meningkatkan elektabilitasnya, Di survei kali ini masih ada 15,1 persen yang belum mementukan pilihan, tentunya ini juga bisa merubah elektabilitas Capres tergantung siapa yang bisa memikat hati masyarakat Jatim” pungkasnya.

Sebagai informasi, hasil penelitian yang dilakukan oleh SSC ini dilaksanakan dari tanggal 01-10 Agustus 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Sebanyak 1.200 responden dipilih dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,83 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Penentuan responden dalam setiap Kartu Keluarga (KK) dilakukan dengan bantuan kish grid.

PDIP, Gerindra, dan Demokrat Partai Paling Nasionalis di Jatim

Dari hasil survei yang dilakukan oleh Surabaya Survey Center (SSC) terhadap masyarakat Jawa Timur, PDI Perjuangan dipersepsikan masyarakat sebagai Partai Politik yang paling nasionalis. Disusul dua partai berikutnya yakni Gerindra dan Demokrat.

Direktur Riset SSC, Moh. Edy Marzuki mengatakan PDIP menjadi partai politik paling nasionalis dengan prosentasi tertinggi. “Perolehannya sebanyak 41,8 persen. Diikuti oleh Gerindra dan Demokrat dengan 12,5 persen serta 9,7 persen,” paparnya.

Lebih lanjut, Edy menambahkan tiga partai tersebut sudah sewajarnya memeroleh hasil demikian. “Sebenarnya, apa yang dipersepsikan terhadapa ketiga partai tersebut tidaklah mengejutkan. Ketiganya memang selalu mencitrakan diri sebagai partai nasionalis. Ini membuktikan bahwa citra yang mereka bangun berhasil diterima Publik Jatim”, tambahnya.

Pria yang juga Dosen Universitas Yudharta Pasuruan menambahkan, selain partai di atas ada partai-partai yang mengikuti di antaranya Golkar dengan 6,2 persen, PKB dengan 4 persen, Nasdem dengan 3,7 persen,. “Jauh di bawah itu pun dengan perolehan kurang dari 2 persen di antaranya Perindo, PAN, PPP, PKS, PSI, Garuda, masing-masing 1,5 persen, 1 persen, 0,3 persen, dan 0,2 persen. Selain itu Hanura, PBB, PKPI, ketiganya memeroleh 0,1 persen. Sementara yang mimilih tidak tahu atau tidak memilih ada 16,3 persen”, paparnya.

Sebagai informasi, hasil penelitian yang dilakukan oleh SSC ini dilaksanakan dari tanggal 01-10 Agustus 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Sebanyak 1.200 responden dipilih dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,83 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Penentuan responden dalam setiap Kartu Keluarga (KK) dilakukan dengan bantuan kish grid.
Inilah Tiga Partai Politik Paling Religius Menurut Masyarat Jatim

Dari hasil survei yang dilakukan oleh Surabaya Survey Center (SSC) terhadap masyarakat Jatim, menunjukkan bahwa PKB jadi partai politik yang dianggap paling religius. Disusul dua partai berikutnya yakni PPP dan PKS.

Terkait hasil survei, Peneliti Senior SSC, Surokim Abdussalam menyebut jika perolehan PKB melejit dengan capaian 48 persen. “Baru diikuti oleh PPP dan PKS yang perolehannya di angka 12 persen dan 8,2 persen”, terang pria yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo Madura ini.

Lebih lanjut Surokim memaparkan partai lain yang perolehannya masih di bawah 5 persen, diantaranya PDIP dengan 4 persen, PAN dengan 2,8 persen, Gerindra dengan 2,4 persen, Golkar, PBB, dan Demokrat ketiganya 2 persen, serta Nasdem dengan 1,5 persen. “Masih ada juga yang perolehannya di bawah 1 persen, yakni Perindo 0,8 persen, Hanura 0,4 persen, serta Ummat dan PSI yang keduanya 0,2 persen. Sementara yang memilih tidak tahu atau tidak memilih ada 13,2 persen”, imbuhnya.

Apa yang dicapai PKB ini sedikit boleh dibilang mengejutkan. “Pasalnya, akhir-akhir ini mereka mencitrakan diri pula sebagai partai yang nasionalis. Tapi di sisi lain tidak dapat dipungkiri jika konstituen dan para pengurus PKB mayoritas lebih merupakan Tokoh dan kader dari NU,” pungkasnya.

Sebagai informasi, hasil penelitian yang dilakukan oleh SSC ini dilaksanakan dari tanggal 01-10 Agustus 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Sebanyak 1.200 responden dipilih dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,83 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Penentuan responden dalam setiap Kartu Keluarga (KK) dilakukan dengan bantuan kish grid.

PDIP, PKB dan Golkar Dianggap Paling Peduli dengan Perempuan dan Milenial

PDI Perjuangan menjadi partai politik yang dianggap oleh masyarakat Jatim yang paling peduli terhadap perempuan dan milenial. Hal itu terungkap melalui hasil survei yang dilakukan oleh Surabaya Survey Center (SSC).

Terkait kepedulian terhadap perempuan, Peneliti senior SSC, Ikhsan Rosidi mengungkapkan jika PDIP berada di posisi pertama diikuti oleh PKB dan Golkar di posisi kedua dan ketiga. “PDIP meraih 22,5 persen, sedangkan PKB 20,2 persen, dan Golkar 6,9 persen,” urainya.

Lebih lanjut Ikhsan menambahkan PKS memiliki perolehan 6,6 persen, sedangkan Gerindra 6,2 persen, Demokrat 5,7 persen, Nasdem ada 3,4 persen, dan PSI serta PPP masing-masing 2,1 persen dan 2 persen. “Lainnya masih di bawah itu, seperti Perindo dan PAN keduanya 1,8 persen, Hanura 0,3 persen, kemudian partai Berkarya, PKPI, dan PBB ketiganya 0,1 persen. Sementara yang memilih tidak tahu atau tidak memilih ada 20,2 persen”, imbuhnya.

Sementara dari hasil riset yang dilakukan oleh Surabaya Survey Center (SSC), diketahui jika masyarakat Jatim memberikan suara mereka kepada PDIP sebagai partai yang dianggap partai yang paling peduli pada kaum milenial. Ikhsan Rosidi mengungkapkan, PDIP memuncaki pilihan dengan meraih 22 persen. “Baru kemudian diikuti oleh PKB dengan 10 persen dan PSI 8,5 persen, Gerindra dengan 8,3 persen, Golkar dengan 6,3 persen, Demokrat 5,8 persen. Sementara Perindo, Nasdem, PKS, ketiganya dengan 4 persen, PAN 1,4 persen, PPP 1 persen, dan Hanura 0,1 persen, serta yang tidak tahu dan tidak memilih ada 24,6 persen”, urai Ikhsan.

“Kedigdayaan PDIP sebagai partai yang dapat memenangkan hati kaum perempuan dan sekaligus kaum milenial ini menjadi pencapaian sekaligus modal berharga untuk mengarungi kontestasi Pemilu 2024 nanti”, pungkasnya.

Sebagai informasi, hasil penelitian yang dilakukan oleh SSC ini dilaksanakan dari tanggal 01-10 Agustus 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Sebanyak 1.200 responden dipilih dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,83 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Penentuan responden dalam setiap Kartu Keluarga (KK) dilakukan dengan bantuan kish grid.

PKS, PDIP dan PKB, Partai yang Dianggap Masyarakat Jatim Paling Anti Korupsi

PKS menjadi partai politik yang dianggap oleh masyarakat Jatim menjadi partai politik yang anti korupsi. Hal itu terungkap melalui hasil riset yang dilakukan oleh Surabaya Survey Center (SSC).

Direktur Riset SSC, Moh. Edy Marzuki mengatakan untuk partai politik anti korupsi, PKS berada di posisi pertama dengan perolehan 16,1 persen. “Sementara disusul PDIP dengan 12,8 persen, PKB dan Gerindra yang keduanya 6,5 persen”, jelasnya.

Lebih lanjut Edy mengungkapkan selain partai di atas ada partai lainya yang mengikuti seperti Demokrat dengan 4,2 persen, Golkar 3,4 persen, Nasdem 2,9 persen, Perindo 2 persen, PAN 1,7 persen, dan PPP 1,6 persen. “Lainnya masih di bawah 1 persen, seperti PSI 0,4 persen, PBB 0,3 persen, Hanura 0,2 persen, Garuda dan Berkarya keduanya 0,1 persen. Sementara yang mengatakan tidak tahu cukup tinggi, yakni 41,2 persen”, urai Dosen Komunikasi Universitas Yudharta Pasuruan.

Sebagai informasi, hasil penelitian yang dilakukan oleh SSC ini dilaksanakan dari tanggal 01-10 Agustus 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Sebanyak 1.200 responden dipilih dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,83 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Penentuan responden dalam setiap Kartu Keluarga (KK) dilakukan dengan bantuan kish grid.

Kader PDIP, PKB dan Gerindra Dilihat Paling Sering Turun ke Lapangan, Atributnya Paling Banyak Dilihat Di Luar Rumah

PDIP dilihat sebagai partai politik yang kadernya paling sering turun ke lapangan. Atribut dari partai berlogo kepala banteng ini pun dinilai paling sering dilihat dan ada dimana-mana. Hal itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Surabaya Survey Center (SSC).

Menurut Peneliti Senior SSC, Ikhsan Rosidi sebanyak 30,8 persen responden menyatakan kader-kader PDIP sering turun ke lapangan untuk bertemu dengan konstituennya. “Di tiga besar, Ia diikuti oleh PKB yang meraih 22,4 persen dan Gerindra dengan 6,8 persen,” ujarnya.

Ikhsan menambahkan, selain tiga partai besar tersebut diikuti Golkar dan Demokrat keduanya memeroleh 5,6 persen, Nasdem ada 4,6 persen, PAN ada 2,5 persen, sementara PPP dan PKS keduanya 1,8 persen. “Partai lainnya seperti Perindo dengan 1,5 persen, Garuda dengan 0,3 persen dan PBB, Berkarya, PSI ketiganya 0,1 persen. Sementara yang tidak tahu atau tidak menjawab sebanyak 16 persen”, imbuhnya.

Pencapaian PDIP ini, menurut Ikhsan tidak lah begitu mengejutkan. “Melihat bagaimana perkasanya PDIP pada gelaran Pemilu dalam dua periode terakhir tentu saja merupakan hasil yang berbanding lurus dengan fakta bahwa kader-kader PDIP dianggap sering turun ke lapangan, menyetuh langsung ke titik-titik masalah di masyarakat dan memberikan solusi nyata dan berkelanjutan” urai Ikhsan.

Di Jawa Timur, lanjut Ikhsan, dominasi perolehan kursi PDIP di DPRD provinsi dan sekaligus berhasil mengamankan kursi Ketua DPRD Jatim yang sebelumnya merupakan milik PKB. “Ini adalah cerminan kinerja kader-kader partai dalam meraih kepercayaan masyarakat, dengan seringnya mereka turun ke bawah dan menyerap aspirasi masyarakat” jelas Ikhsan.

Bagaimana dengan partai-partai yang atributnya paling sering dilihat di luar rumah responden? PDIP masih menjadi jawaranya dengan perolehan 33,4 persen. Diikuti PKB dengan 23,8 persen, Gerindra ada 8,8 persen, dan Golkar ada 6,6 persen. “Partai lainnya seperti Demokrat mendapat 6,5 persen, Nasdem ada 5 persen. Bahkan partai yang memeroleh di bawah 3 persen pun di responden juga ada seperti PPP hanya 2,6 persen, PAN hanya 2,4 persen, lalu PKS dengan 2 persen, Perindo 1 persen, PBB 0,2 persen, kemudian Hanura, PSI, Gerindra ketiganya memeroleh hanya 0,1 persen. Sementara yang memilih tidak tahu atau tidak menjawab ada 7,4 persen”, pungkas Ikhsan.

Sebagai informasi, hasil penelitian yang dilakukan oleh SSC ini dilaksanakan dari tanggal 01-10 Agustus 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Sebanyak 1.200 responden dipilih dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,83 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Penentuan responden dalam setiap Kartu Keluarga (KK) dilakukan dengan bantuan kish grid.

PDIP, PKB dan GERINDRA Bersainga Jadi Partai Pilihan Milenial

Dari hasil survei yang dilakukan oleh Surabaya Survey Center (SSC), diketahui jika mayoritas para pemilih milenial memilih untuk memberikan suara kepada PDIP, PKB, dan Gerindra.

Peneliti Senior SSC, Surokim Abdussalam mengungkapkan, dari kalangan milenial, PDIP memuncaki pilihan dengan meraih 27 persen. “Baru kemudian diikuti oleh PKB dengan 17,2 persen dan Gerindra dengan 12,5 persen, Demokrat dengan 7,5 persen, serta Golkar dengan 7 persen. Partai-partai lainnya hanya berada di kisaran 5 persen ke bawah,” katanya.

Lebih lanjut Surokim menguraikan partai-partai yang dimaksud meliputi PKS dengan 3,6 persen, Nasdem dengan 3,3 persen, PPP 2,5 persen, Perindo dan PAN keduanya 1,8 persen. Sementara PSI 0,3 persen, Hanura, PBB, PKPI ketiganya 0,2 persen, sisanya Partai Berkarya, Garuda, Ummat, Gelora, PKN, dan Prima hanya 0,1 persen”, urai Dekan FISIB Universitas Trunojoyo Madura ini.

Meskipun demikian, Ia menggaris bawahi jika ceruk dari responden pada demografi ini juga masih cukup besar. “Masih ada 14,3 persen yang memilih tidak menjawab atau tidak tahu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed