Diskusi Budaya, Jadi Ajang Curhat Seniman Pasuruan

Berita, Daerah6 views

Mediacentral-Jatim,Diskusi Budaya Minggu Ponan yang digelar Rumah Budaya Saraswati hari ini, Minggu Pon 30 Juni 2024 terasa beda dengan diskusi budaya sebelumnya.

Diskusi yang diikuti seniman Pedalangan, Ludruk, Karawitan, Mocopat, Sanggar Tari, Musisi, Jaranan, Penghayat Kepercayaan, seniman serta Budayawan lainnya terlihat gayeng dengan hadirnya salah satu Bakal Calon Bupati Pasuruan Ramdhanu Dwiyantoro atau yang akrab disapa Pak Ram.

Agenda rutin yang biasa membeda tentang obyek pemajuan kebudayaan, kali ini menjadi ajang curhat para seniman dan budayawan Pasuruan.

Doddy Afandi misalnya, mempertanyakan Perda Seni Budaya yang sudah dibuat tahun 2018 namun hingga kini belum pernah disosialisasikan.

“Secara pribadi saya tahu ada Perda tersebut, tapi mayoritas pelaku budaya di Pasuruan tidak ada yang tahu, Kenapa harus disembunyikan” Ungkap pengurus Paguyuban Budha Jawi Wisnu ini terheran.

Sementara itu, Ki Winarno Sabdo, seniman Pedalangan dari Tosari berharap perlu digalakan kembali acara yang bersifat adat dan penuh kearifan lokal, semisal ruwatan.

Hal senada diutarakan Suwarno, seniman ludruk dari Watuagung Prigen, sangat berharap ada pementasan ludruk secara periodik yang digelar Pemkab Pasuruan sehingga cara ini bisa menjaga kelestarian seni ludruk.
“Pentas periodik bisa jadi alternatif untuk mempertahankan seni ludruk dari kepunahan” Ungkap Pimpinan Ludruk Mahkota Budaya ini.

Menanggapi banyaknya problematika kebudayaan di Pasuruan, Ramdhanu berharap ke depan perlu banyak pembenahan dari sisi regulasi dan pengadaan sarana dan prasarana kebudayaan, salah satunya adalah gedung kesenian yang sampai hari ini belum dimiliki seniman Kabupaten Pasuruan.

“Sarana dan prasarana kebudayaan wajib ada di Pasuruan, karena proses berkarya para seniman perlu etalasi yang bernama Gedung Kesenian” tutur mantan kepala Kejaksaan Negeri Pasuruan ini.

Ditempat yang sama, Ki Bagong Sabdo Sinukarto penggagas acara yang sudah berjalan hampir 15 tahun ini menambahkan jika kebudayaan Kabupaten Pasuruan saat ini sedang tidak baik-baik saja, pedli sentuhan tangan dingin pemimpin yang memahami arti kebudayaan daerah.

“Sudah waktunya Pasuruan punya pemimpin yang punya strategi pembangunan budaya dan bisa mengimplementasikan undang-undang pemajuan kebudayaan di Pasuruan”
pungkas mantan ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan (DK3P) 2015 – 2020.

Editor
Agus pengampon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed